Kamis, 28 Agustus 2014

Keumanhae Jebal ;(

Aku sudah cukup untuk tetap bertahan dan menjaga emosiku. Tapi kurasa ini sudah cukup, maka sampai di sini saja. Aku hanay berusaha menjaga usahaku yang mulai sejak awal dan dipertengahan kamu hancurkan hingga beberapa langkah aku akan sampai dipuncak untukku sedikit duduk. Ku rasa aku tidak pernah berbuat salah, aku bahkan tidak pernah berkata kasar. Juga aku bahkan memilih diam dan memendam semuanya seorang diri, tidak peduli apa kata orang-orang yang berada di sekitarku. Aku menjadi jahat dan kamu menjadi baik, ya pertahankan. Tapi terhitung mulai hari ini, ruangmu takkan lagi sempit karena aku tidak akan mengganggu pandanganmu lagi. Jika ingin berbicara seperti tadi bisakah jangan di depan teman-temanku? Aku sudah cukup untuk menjaga perasaanmu selama ini. Aku diam sampai sekarang, apa aku pernah membuatmu marah karena sikapku selama ini? Mungkin aku kurang cukup menghilang dari indramu, jika dengan ini mungkin selamanya kamu akan terbebas dariku. 

Tidak peduli apa, selamanya mungkin luka itu hanya aku yang akan merasakannya. Aku bahkan mengorbankan semua temanku karenamu, mengorbankan semua usahaku satu tahun terakhir ini, terpaksa membuat semua orang membenciku karenamu. Memang mungkin kamu tidak memintaku melakukan ini, tapi aku ini juga manusia dan juga perempuan. Kamu pikir aku ini orang seperti apa yang tidak tidak bisa menjaga perasaan orang lain seperti kamu? Jujur saja aku malu tidak bisa mengendalikan emosiku di depan teman-temanku. Semua ini karena kamu, jika kamu paham mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku sudah tidak ingin lagi menahan mataku untuk tidak menangis di depan teman-temanku dan memilih dengan emosi yang meluap-luap. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa di depan teman-temanku. Aku bingung dan malu, apa kamu tahu harus bagaimana aku menghadapi rasa maluku terhadap teman-temanku? Aku berubah menjadi orang yang benar-benar jahat. Ketika kamu begitu dengan bebasnya melakukan sesuatu, memangnya kamu pernah berfikir bagaimana denganku? Tidakkan? 

Setelah mungkin aku tidak berguna dan menemukan yang menurutmu lebih, maka kamu akan membuangku begitu saja? Aku benar-benar menyerah sekarang, apa aku salah jika bertahan di posisiku dan memilih untuk tidak kehilangan teman-temanku? Aku tidak punya alasan untuk itu. Tapi akan ku lakukan jika memang hal itu akan membuatku lebih nyaman. Nanti jika tanpa kehendak bertemu lagi, aku mohon hanya jangan bersikap seperti tadi di depan teman-temanku. Apa aku ada berbuat salah? Bukankah sudah cukup untuk keadaan seperti sekarang ini?

Banjarmasin, 28 Agustus 2014

Selasa, 26 Agustus 2014

Celotehan Gaje Gue

Sebenernya gue baru nyadar ternyata sebagian besar dari TL yang sering gue tulis itu nyalur ke facebook ini. Ternyata setelah dibuka ke beranda sendiri ternyata status TL gue yang nyalur ke facebook ini itu hampir beleret.Ckckckck. Dari kesadaran gue itu sebenernya ada yang lebih sadar, contohnya ja beberpa dari sebejibun temen gue bilang gini "Ref, curcorlan lo nih nongol damenuhin beranda gue, tiap gue down terus dan terus, eh sumpah cuman nama facebook lo sama curcolan lo yang nongol". Gue cuman bisa nyengir pas mereka komplain. Tapi pas gue sehari ga ada nulis apapun di sosmed, mereka malah bilang gini "Ref, kok tumben ga curcol fi TL?" gitu mereka bilang. Yang paling ektrim nih, ada yang sampe ngirim sms buat nanyain gitu doang, astaga gue juga baru nyadar soal yang itu. Ternyata status TL gue meskipun jarang ada yang like dan komen, banyak juga yg menantikan. Ckckck, Well, sebenernya gue sadar seberapa banyaknya TL yang gue tulis harai ini gegera kucing yang jatohin semua tumpukan novel zaman SMA gue. 

Dari situ gue juga baru sdar dari ke khilafan gue selama kuliah ini, secara sejak masuk kuliah di semester 1 kemaren gue dirempongin sama tugas kuliah, pas semester 2 kemaren gue dikepoin sama laporan praktikum kalo gak gitu paling gak gue bakalan bolak-balik dari rumah ke sekre kalo ga ada urusan penting, gue pasti bakalan nongol di sekre buat ngabisin duit dan ngerumpi alias ngegosip. Dari yang gue lakuin itu yang bikin gue lupa nulis sama baca-baca novel lagi. Oh Hell, ternyata dari sekian banyak yang gue lakuin selama kuliah ini, lebih banyak urusan yang gue lakuin itu ga penting dari pada yang penting, tapi itu sih baru kemungkinan yang mungkin aja udah terjadiato belum. Tapi ya gue mikir lagi, gue inget sama kata-kata nyokap gue. Nyokap gue bilang gini ke gue "Ref, kamu baik-baik aja kan? Di kampus kamu juga baik-baik aja kan? Ga nakal sama dosen?" Ya elah dikira nyokap gue, gue masih suka ngelemparin dosen pake kapur papan tulis? Itukan zaman gue masih SD dulu. Terus nyokap gue bilang gini "Kamu kok kayaknya ada yang berubah ya? Ada apa?" Itu yang nyokap gue selalu tanyain ke gue selama 2 bulan berturut-turut, mungkin itu karena kejadian yang sebenernya ga pernah pengen gue inget. Yang udah sukses bikin gue serasa berada di neraka yang paling rendah dan bikin gue sering ngurung diri dan mewek di kamar. Nyokap gue juga selalu bilang sejak bulan februari gue makin aneh dan katanay gue ada yang berubah. 

Well, padahal nih ya gue masih tetep manusia kok, ga berubah jadi wonder women ato spider women. Nah kan, terus sampe sekarang nih gue kalo udah ngumpul rame di rumah. Ga itu sama tetangga ato keluarga besar nih, gue selalu di bully sementang-mentang gue ga mau daftar polwan. Woy, sapa yang ga mau? gue jga pengen  banget keles. Secara itu udah cita-cita dan tujuan idup gue, tinggal terapi sama perawatan dikit aja tahun depan padahal gue bisa daftar. Tapi sekarang udah ga mungkin dan ga bakalan bisa lagi. Gue sedih berat tau ga sih, bawaannya tuh ya gue kepengen mewek mulu kalo inget itu. Sapa juga yang ga kepangen lihat ortu gue bangga sama gue. Tapi apa daya gue sekarang cuamn bisa sadar dir aja sama keadaan diri gue, mungkin gue udah rapuh. Tapi sayangnya gue belum lapuk ye kayak kayu tua. Gue masih kepengen bangkit kek kebangkitan nasional. Gue udah dalam usaha sekarang, tapi ga atu deh lah. Well well to the well well, gue baru nyadar setelah lihat-lihat novel yang udah debuan beserta kutuan, sebagian besar dari bovel yang gue punya itu kok ceriatnya hampir mirip sama yang gue alami selama kuliah. Wey, ini bukan sihir keles, kebetulan yang ga ada untungnya. Besok mungkin bakal gue filter nih novel, bakal gue bakar. Masa bodo gue,padahal kalo diinget-inget dulu itu ngebet banget ngumpulin berseri-seri dan hampir peuh satu meja belajar. Tapi sekali lagi novel gue udah dibikin istana kertas sama semut-semut kecil. ckckck, tamat sudah riwayat. Ini celotehan gaje gue, dan ini bukan dari hati yang paling dalam.

Banjarmasin, 26 Agustus 2014

Sabtu, 09 Agustus 2014

Melihat

Penyesalan setiap hari
Aku hanya melihat seseorang bukanlah aku
Seperti orang bodoh dengan kata-kata
yang bahkan tidak kutahu
Tetap saja kusembunyikan perasaanku

Akankah kebahagian datang pada kita?

Akankah kebahagiaan datang pada kita?
Satu hari nanti kulihat rasa
sakit yang telah kau sembunyikan
Hatiku pilu

Kau tidak tahu apa artimu bagiku,
Berapa banyak kekuatan yang
kuuberikan padaku,
Kau tak tahu bagaimana hariku

Karena satu hari, diantara keramaian,
Aku hanya bisa melihatmu.
Aku hanya mampu tersenyum memandangmu
Aku akan di sampingmu

Kita sedikit kasar dan hati-hati
Sejak kapan, tanpa sadar
Dalam mimpiku, kau di sana.
Aku hanya bisa melihatmu


Banjarmasin, 9 Agustus 2014

Jumat, 08 Agustus 2014

Percikan Api kecil

Aku tidak tau apa yang salah, hanya saja ada sedikit hal aneh yang selalu menggangguku. Sebenarnya aku ingin mulai acuh, tapi kurasa hal itu akan semakin sulit. Entahlah, mungkin aku hanya bingung saja apa yang harus aku lakukan sembari menunggu waktu. Untuk bertobat kepada Tuhan selalu aku usahakan. Apa yang sebenarnya terjadi pun aku tak tau. Bila memang hanya akan ada dusta selamanya, apa yang bisa aku lakukan? 

Aku hanya manusia biasa yang bahkan dapat dikatakan bodoh untuk hal yang berpikir panjang. Oh, ayolah aku tidak suka menjadi terlalu bodoh dan terlalu pintar. Keinginan ku begitu sederhana, menjadi orang yang biasa-biasa saja. Luar biasa? aku sekarang tak menginginkannya lagi. Bahkan untuk kata sempurnapun sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti. 

Sebagian orang banyak yang mengatakan bila kesempurnaan adalah segalanya. Tapi menurutku itu hanyalah omong kosong saja. Orang yang nampak sombong, tak peduli berdiri dengan gagahnya ataupun anggunnya dia. Pastilah ada sesuatu yang disembunyikannya. Sebuah rahasia yang mungkin sebuah luka lama. Ataupun sebuah fakta yang sebenarnya disembunyikan dengan segala kesombongannya. Sebuah fakta dimana dia memiliki ketidakmampuan untuk menghadapi masalahnya.

Entah rahasia itu akan dilimpahkan kepada orang lain atau hanya akan ditanggungnya seorang diri. Aku hanya tau jika seseorang yang mempunyai rahasia dan tak ada seorang pun yang dapat dipercayanya maka dia hanya akan menyimpan rahasia itu seorang diri. Untuk sampai kapan ia akan bertahan mungkin hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tau. Isi hati orang siapa yang tau, iyakan?

Mulut, hati dan pikiran terkadang berada dijalan yang berbeda. Mulut berkata tetapi hati dan pikiran tak sejalan dengannya. Maka hal itu bisa dibilang bohong dan acting saja. Akan ada banyak kemungkinan yang terjadi, bagaimana itu terjadi hingga kini bahkan tak ada yang tau. Sekali lagi hati seseorang siapa yang tau?

Terkadang bahkan diri sendiri sulit untuk memahami isi hati sendiri. Sulit untuk dijelaskan, biasanya isi yang begitu berkecamuk dan terlalu banyak benang yang memutar antara mulut, hati dan pikiran. Susah memang bila membicarakan tentang kesempurnaan. Bila ingin mendapat kesempurnaan itu haruskah menggunakan segala cara? Orang baik bisa saja berpindah stir menjadi jahat. Hanya demi sebuah kesempurnaan, tak jarang juga orang yang berhati jahat. Tetapi berpura-pura berperilaku seolah dia mempunyai hati yang begitu mulia. Itulah kesempurnaan, baginya. Dengan memasang topeng setebal hati dan pikiran yang dapat dibodohi oleh mulutnya sendiri. 

Manusia itu terkadang bertingkah bodoh dan tak mensyukuri apa yang telah di berikan Tuhan padanya. Untuk apa mencapai kesempurnaan bila harus mengorbankan segalanya? Kurasa lebih baik menjadi apa adanya dan meneriman kekuranga diri sendiri. Jangan lupakan kata sempurna bukan milik manusia melainkan milik Tuhan. 

Kamu yang mengejar kesempurnaan duniawi tetapi memasang topeng agama adalah manusia paling munafik. Ketidakmamuan menjadi diri sendiri sehingga membuat orang itu menjadi munafik dan menipu dirinya sendiri. Tidak heran jika orang-orang sering memasang topeng agama demi mendapatkan kesempurnaan miliknya. Menjadi munafik itu bakankah sangat mudah sebagai manusai yang pandai berbohong dan berpaling dari kenyataan?


__Percikan Api Kecil di Ujung Jendela | 8 Agustus 2014

Kamis, 07 Agustus 2014

Scrip_1 Bag 1

'Katanya lelah, katanya tak sanggup lagi, katanya seperti orang mati. Tapi itu hanya kata saja yang beda dengan keadaan sesungguhnya' 

Hanya katanya saja, siapapun bisa mengucapkannya. Bukan hanya orang dewasa atau bahkan anak SMp saja yang bisa mengatakannya. Tetapi bahkan anak kecil yang bahkan belum tahu asam manisnya dunia mampu mengatakannya. 

Yang katanya lelah, hei bukan hanya kamu saja yang lelah siapa pun di dunia ini akan merasakan yang namanya lelah. Lelah apa yang kau rasakan? Ku kira kau takkan pernah meraskan lelahnya hari ini. Ku pikir kau hanya memikirkan kesenanganmu saja. Apa dengan kehidupan glamourmu itu tidak membuatmu merasa tetap bersemangat sepanjang waktu. Dibandingakn dengan orang-orang yang bercucuran keringat dan air mata setiap harinya. Oh, ku pikir aku terlalu jauh menggambarkannya. Ini hanya masalah hati kan? untuk apa menggambarkan sedemikian rupa kalau toh hanya menggambarkan isi hatimu saja. 

Lelah? oh mungkin kau lelah memikirkan hatimu yang bingung harus memilih mana. Mana yang cocok dengan seleramu. Hm, bukan-bukan maksudku. Mereka berdusa adalah seleramu, hanya saja kau bingung ini memilih yang mana. Hei, lalu apa kau tak memikirkan seseorang yang duduk termenung di depan jendela begini? Jangan kau lupakan seseorang lain lagi yang juga kau buat dilema. Jika aku pikir sekali lagi siapa yang lelah di sini, siapa? kamu atau seseorang tau bahkan seseorang yang lain itu? Ya, kamu sebagai orang yang 'dewasa' harusnya dapat mengambil keputusan jika memang ingin cepat selesai. Lelah apanya, kamu bahkan belum memulai sedikitpun. Maaf maksudku bukannya belum memulai, tetapi memulai yang baru sedang yang lama saja kamu biarkan mengering begitu saja. 

"Biar waktu yang menjawabnya" Begitukah kamu bilang.

Kamu pikir hati orang itu apa? Batu? Batu yang bila terkena air hujan terus menerus akan berubah menjadi butiran debu. Dan kamu berharap akan ada algu milik Cakra Khan dengan judul 'Butiran Debu' begitu kah? Lucu? kamu pikir begitu. Hei kamu manusia yangmasih saja bersembunyi, jika kamu memang merasa tak bersalah dan merasa lelah denga bayang-bayang yang menghantuimu cobalah bersikap bijak dan 'dewasa' . 

Seseorang di depan jendala ini pun merasa lelah. Bukan hanya tentang kamu saja, tetapi banyak kenyataan yang harus dihadapinya seorang diri, tak pernah kah kamu berpikir begitu. Seseorang yang di sini ini memang bodoh tanpa lelah masih saja mengingat hal yang bahkan mungkin tidak akan kamu ingat lagi. Mengenai beberapa orang yang harus kamu pertimbangkan, katakan pada mereka jadilah diri mereka sendiri ini untuk salah satu dari mereka.

Kamu tau tau tidak? Ah kuharap kamu tak mau tau tentang ini. Sungguh akan disayangkan jika kamu tau. Tapi tak apa, satu oarang dari mereka itu sepertinya atau sebenarnya? Entahlah biar dirinya dan Tuhan yang tau, Kamu cukup mendengar, melihat dan merasakannya saja. Bial tak bisa dengan mata atau telinga, cukup dengan hatimu saja. jadi bila hatimu lelah, itu karena ketidakmampuanmu mengahadapi kenyataan yang ada. 

Lalu apa yang akan kamu lakukan bila kamu sudah merasa di ujung rasa lelah mu itu?Berdiam diri sajakah hingga Tuhan yang akan membawamu pada kenyataan? Sampai kapan? Samapi akhirnya kamu menyesali segala di atas makan salah satu diantara orang-orang ini?


_______Just preview maybe :D "Scrip_1 Bag 1"

Selasa, 05 Agustus 2014

Buntu Muara

Ada kelabu lagi
Di kala ujung merapi
Warna antara hitam putih
Telah tenggelam pekatnya hujan

Bila menderai sakitnya
Merelung hingga melarut asa dalam duka
Menyisit bahagia di muka mata
Tersisih disudut pelangi

Bila ujung-ujung hujan tau
Dua muara tau
Apa coklat dan es krim
akan terima?

Alam tak berbatas
Tapi jalanan dan sungai punya ujung
Buntu gelap pengap
Muara curam nan dalam

Bisakah?
Bisakah selamat bila satu?
Bila sama-sama?
Atau satu-satu ujung tak mau tau?

Lebih bisa bedakan
Mana warna?
Warna biru atau merah
Lusuh atau baru

Lusinan pelangi belum lewat
Tapi muara telah didapat
Apa mau dikata
Bergerakpun seolah iba


Banjarmasin | 05 Agustus 2014

Gumpalan 31 Juli 2014

Oh, hai? Lama tak jumpa ya? Hm, apa kabarnya kamu di sana? Aku? Di sini? eh, iya sih mana mungkin kamu bakal nanya begitu hmm, nanya? Jangankan nanya mungkin kebesit mikirin aja enggak ya? Hahaha, udah lah. Aku hanya ingin menulis ini karena aku ingin. Mungkin kamu tidak banyak lebih tau dari yang lain. Kalau aku ini orang yang tidak punya pendirian atau kepribadian tetap alias kata orang sekarang itu labil. Aku gak mau ngambil pusing dengan pikiran itu semua, toh mereka hanya bergunjing dibelakang aku dan ga ganggu aku sama sekali.Oh iya lebaran ini kamu ngerasa beda gak sama tahun kemaren? Sama aja ya mungkin kalo kamu, kalo aku sih 180 derajat bedanya. gak usah aku ceritain juga kan? Kamu juga udah tau itu, mungkin. 

Lebaran? oh ya ampun hampir lupa. Kita ga ada maaf-maafan yah kemaren itu. Ya ga papa lah mungkin, kan kamunya juga udah ngerasa begitu enjoy. Hm, biar kamu ga bilang dan sok 'merasa sakit', tapi aku tau kok kalau kamu merasa senang. Hehe, apapun itu ya pertahanin aja deh kek gini, kan ini kamu yang mau ya? Aku gak usah kamu tanya deh, kamu yang selalu bener dan aku yang 'Salah Paham' eh, selalu salah maksudnya. Kamu tau gak? kalo ga mau tau ya udah, aku sih cuman mau cerita. Sobek aja bagian ini kalo kamu ga mau tau begitu. Giniloh, wakt aku konsul kemaren sama orang yang bernama bapak  __________ aku malah ditanya. Siapa yang salah sebenernya? Aku atau kamu sih? kok jadi akunya yang ngerasa 'repot'. Lah aku bingung mau jawab apa, akhirnya cuman bisa diem aja kalo begitu. 

Padahal ada banyak hal lagi yang mau aku ceritain ke kamu, tapi sayangnya kamu gak mau gitu. Ya udah deh, aku juga milih diem aja. Sepertinya bener yah, kalau semuanya itu cuma aku yang harus nyimpen semuanya. Tapi kamu tau gak sih batas manusia pada kesabarannya? Aku juga gak tau mau sampai kapan aku bisa diem, tapi kamu tenang aja ya. Aku bakalan diem semampu aku kok, yah tapi mungkin kalau aku mendadak emosi aku bakalan ngomel di sosmed. Kamu aman kok selama aku diem aja, kamu juga bisa 'kesana kemari' tanpa perlu kamu peduliin aku. Eh, dari awal ya mungkin kamu ga peduli sama aku, kalau gitu terusin aja. Aku gak masalah kok, meski kadang yeh mewek sendiri gitu tanpa ada yang tau sebenernya. Haha

Oh ya dan juga aku...




______ Gumpalan Kertas 31 Juli 2014


Senin, 04 Agustus 2014

04-08-14 Lainnya

Ada banyak orang yang bertanya, ada apa denganku? Apakah sorang yang bernama ______ sudah gila sekarang? Mengapa wanita.. oh? wanita? dia bahkan belum genap berumur 19 tahun. Hell yeah, gadis remaja, well apa masih bisa dibilang sebagai gadis biasa. Aku pun tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku, yang aku tau aku hanya ingin meluapkannya, tidak peduli jika dunia tahu tetapi tidak dengan orang-orang terdekatku. Aku gila? Oh ya silahkan berpendapat seperti itu, tak masalah untukku asal tidak menyentuhku barang sekuku amanlah dirimu. Tapi jangan salah jika sudah berurusan denganku, dunia akhirat insya allah tak tenang. Jika kamu menjaga dirimu terhadapku, maka aku juga akan sedemikian padamu. Baik dibalas dengan baik, jahat ya dalam kamusku dibalas jahat. Aku jarang mengenal peribahasa 'air susu dibalas air susu' karena apa yang sering aku terima 'air susu dibalas air tuba'. 

Kehidupanku juga dapat dibilang tidak sama sekali sama dengan gadis atau anak perempuan yang belum berumur genap 19 tahun. Jauh dari kata baik-baik saja dan beegitu nampak bahagia. Memang baik-baik saja dan nampak begitu bahagia, tapi yang bisa ku rasakan hanya sekejap dasn sekejap kemudian sirna. Slahku juga bila sudah begini apa yang bisa lagi dilakukan mungkin tinggal menunggu waktu saja lagi. Menunggu Tuhan...

_____Sobekan Surat 04-08-14 lainnya

Senin, 04 Agustus 2014

Sebenernya sebenci apapun aku pada seseorang gak pernah lebih dari sehari atau bahkan sejam. Pasti habis itu aku merasa biasa saja. Tapi demi apapun aku benci dan sangat-sangat benci dengan orang itu. Padahal sudah berusaha bersikap biasa tapi yah selalu saja emosi. Terserahlah cukup anggap dia gak pernah ada, mungkin akan lebih baik. Toh tidak akan ada yang berubah juga kan? Hohoho, sekedar formalitas?Oh, masih bisa lewat orang lain, jadi untuk apa repot? hohoho. Memaafkan? it's okey aku maafin kok tenang aja, Allah SWT aja dapat memaafkan dosa yang seberat apapun itu masa aku gak sih? Tapi tetep aja aku bakal inget seumur hidup? Maybe? Entahlah setiap pengen ngelupain pasti inget, dan setiap berusaha normal tetep aja ngerasa ganjal.

Karena usahaku untuk bertobat, meskipun masih dalam cover yang selengean. InsyaAllah akan berusaha lebih lagi, nanti jika aku benar-benar sudah menjadi wanita sholehah -entah kapan itu aku berharap Allah mau mengabulkan permintaanku yang paling sederhana. Keluarga dan teman-temanku dapat menerima aku apa adanya, dengan keadaanku yang seperti ini. Tersudut dan rendah? iya tentu saja aku merasa seperti itu. Tapi cepat atau lambat semua itu akan terbongkar juga kan? semoga saja aku tetap tahan dan kuat untuk menyimpannya sendirian. Insya Allah selama aku tetap bersujud pada Allah, Allah akan selalu menjadi penguat dan pelindung untukku. Amin.

Mungkin akan lebih baik kalau aku ditelan bumi deh kalau mereka (Keluarga, sahabat dan orang-orang yang kusayangi) tahu bagaimana aku. Akan aku siapkan diriku hingga hari itu tiba yang sekali lagi aku tidak tau kapan. Aku juga berharap Bapak dan Ibu masih mau menganggapku anak. Karena...

____Sobekan Surat 04-08-14

Jumat, 01 Agustus 2014

Sama saja isinya

Jika ingin lupakan, maka lupakanlah. Aku mengerti karena akupun demikian, ingin melupakan segalanya. Segala hal yang mungkin pernah dilakukan dengan keterpaksaan dan tanpa ada alasan yang mendasari. Tanda dilandasi sebuah pondasi yang bernama sebuah status, apa pedulimu dengan status masa lalu? heh? Aku jadi merasa terbodohi selama itu. Aku jadi melupakan seperti apa hukuman yang akan diperoleh dikemudian hari. Bodoh sekali rasanya, andai tau seperti apa kenyataannya aku takkan sama sekali mau pernah mempunyai sebuah hubungan denganmu. Mungkin hanya sebatas formalitas saja itu lebih baik seperti yang lainnya. Daripada harus mempunyai hubungan yang kurasa hanya aku yang dirugikan, dan kamu pun sama sekali tidak peduli. Nyata sampai sekarang ini tetap sama, ucapan maafmu itu hanya sebatas ucapan tak berlubuh dari hati. Kamu adalah penipu terhebat dalam hidupku. Bahkan aku sudah merelakan segala milikku untuk kamu miliki dan kamu ketahui. Aku sadar betapa bodohnya aku, dan aku sadar jua ketika aku menceritakan ini semua. Tapi entah mengapa rasa kesalku takkan bisa hilang. Bila kamu ingin seperti ini selamanya, baiklah akan ku turuti. Karena mungkin sejak awal hanya aku yang memberi dan mengalah. Entah siapa yang sebenarnya benar-benar bersalah disini, hingga kurasa hanya aku yang merasakan sakitnya. Tuhan memang begitu adil, kebodohanku yang dulu kulakukan denganmu dibalas Tuhan dengan semua rasa resah dan sakit yang kuterima hingga kini. Aku tidak tahu apa Tuhan juga memberinya untukmu, tapi kurasa Tuhan tidak begitu adil padaku hingga hanya aku saja yang menerima dari apa yang ku beri padamu. Bodoh bukan? aku tidak peduli jika apa yang kuceritakan ini tak masuk akal. Karena sama saja dengan kelakuanmu selama ini yang sama sekali tak masuk akal. Kekanakan dan tidak bisa bertanggung jawab, yayaya biar ku ceritakan dan ku tulis beribu kali pun kamu tidak pernah menyadarinya. Masabodo dengan semua hal itu, yang ku tau sekarang hingga mungkin aku mati nanti kamu adalah lelaki yang paling brengsek di dunia ini. Apa perkataanku terlalu kasar dan menyinggungmu? heh? Apa peduliku. Kamu juga tidak peduli dengan apa yang kurasakan selama ini. 

Banjarmasin | 30 Juli 2014