Selasa, 18 Maret 2014

Laporan Praktikum 3 Morfologi Tumbuhan [Tata Letak, Rumus dan Diagram Daun]



PRAKTIKUM III

Topik               : TATA LETAK DAUN, RUMUS DAUN DAN DIAGRAM DAUN
Tujuan             : Mengenal berbagai tata letak daun pada batang, menentukan   
                           rumus daun serta menggambar bagan dan diagram daun
Hari / tanggal  : Kamis, 13 Maret 2014
Tempat            : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I.             ALAT DAN BAHAN
A.  Alat-alat :
1.    Baki/nampan
2.    Alat tulis
B.  Bahan-bahan :
1.    Ranting Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
2.    Ranting Alamanda (Allamanda chatartica L.)
3.    Tumbuhan Pandan (Pandanus sp.)
4.    Tumbuhan Bayam (Amaranthus spinosus L.)
5.    Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)

II.          CARA KERJA
1.      Mengamati duduk daun pada ranting, cabang atau batang (tunggal tersebar, tunggal berseling, berhadapan, berseling berhadapan, berkarang, roset batang, roset akar, monospirostik dan tripirostik).
2.      Menentukan rumus daun : 1/2, 2/5, 3/8, dan seterusnya.
3.      Menggambar bagan dan diagram daun.

III.       TEORI DASAR
Daun-daun pada suatu tumbuhan biasanya terdapat pada batang atau cabangnya, ada kalanya daun-daun berjejal-jejal pada suatu bagian batang, yaitu pada pangkal atau bagian ujungnya. Umumnya daun-daun pada batang terpisah pada batang terpisah-pisah dengan suatu jarak yang nyata. Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral tadi mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang di lewati selama itu adalah b, juga dinamakan rumus daun atau disvergensi.
Pecahan a/b selanjutnya dapat menunjukkan sudut antara dua daun berturut-turut jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak antara kedua daun pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang di sebut sudut disvergensi, ternyata didapati pecahan a/b dapat terdiri dari pecahan 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dan seterusnya. Untuk menjelaskan tata letak daun dapat dilakukn dengan bagan tata letak daun dan diagram tata letak daunnya.
A.  Bagan Tata Letak Daun
Untuk membuat bagan tata letak daun, batang tumbuhan digambar sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostik-ortostiknya, demikian pula pada buku-buku batangnya.
B.  Diagram Tata Letak Daun
Untuk membuat diagram tata letak daun, batang tumbuhan harus di pandang sebagai kerucut memanjang, denan buku-bukunya sebagai lingkaran-lingkaran sempurna. Jika diproyeksikan pada bidang datar maka buku-buku tersebut akan menjadi lingkaran-lingkaran yang konsentris dan puncak kerucut akan menjadi titik pusat lingkaran-lingkaran tadi.
C.    Spirostik dan Parastik
Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh macam-macam faktor. Perubahan sangat karakteristik ialah ortostik menjadi garis spiral yang tampak melingkar batang pula.
            Dalam keadaan yang demikian, spiral genetik sukar ditentukan dan tampaknya letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi yang diberi nama lain spirostik.
            Bagian tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat, daunnya seakan-akan mengikuti garis spiral ke kiri atau ke kanan. Garis spiral dengan arah putaran ke kiri dan ke kanan menghubungkan daun-daun yang menurut ke  arah samping (mendatar, horizontal) mempunyai jarak terdekat. Setiap daun mempunyai tetangga yang terdekat, satu ke kiri dan satunya ke kanan. Dari sudut situ pula tampak ada spiral ke kiri dan ke kanan. Gari-garis itu disebut parastik.


IV.             HASIL PENGAMATAN

V.                ANALISIS DATA
1.      Tanaman Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Klasifikasi:
Divisio          : Magnoliophyta
Classis           : Magnoliopsida
Sub Classis    : Dilleniidae
Ordo             : Malvales
Familia          : Malvaceae
Genus            : Hibiscus
Species          : Hibiscus rosa-sinensis L.
Pada batang tanaman Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) memiliki susunan daun tunggal dengan tata letak daun tersebar. Tumbuhan ini mempunyai bentuk batang bulat, upih daun tidak ada, tangkai daun silindris, sisi atas tegak pipih dan menebal pada pangkalnya. Arah tumbuh batang tegak menuju ke atas.
Rumus tata letak daun : 2/5
Rumus daun merupakan perbandingan banyaknya daun yang tegak lurus yang dikelilingi garis spiral pada batang (a) dan jumlah daun yang dilewati (b) = a/b. Rumus ini diperoleh dengan menentukan daun pertama sebagai patokan (∆o), kemudian menentukan daun di atasnya yang persis tegak lurus dengan daun pertama tadi , setelah dapat baru menghitung jumlah daun pertama sampai daun yang tegak lurus tadi, pada bayam terdapat 5 daun yang melingkari batang sebanyak 2 kali sehingga ditemukan rumus daunnya 2/5.
Sudut divergensi : 2/5 x 360˚ = 144˚
Dengan menggunakan rumus daun dapat menggunakan jarak sudut antara dua daun yang berturut-turut yaitu dikali besarnya lingkaran = a/b x 360˚. Sudut yang berdekatan antara dua daun ini disebut dengan sudut divergensi . Pada ranting kembang sepatu  sudut yang dibentuk antara dua daun yang berdekatan yang besarnya selalu sama yaitu 144˚.

2.      Ranting Alamanda (Allamanda cathartica L.)
Klasifikasi :
Kingdom              : Plantae
Divisio                  : Magnoliophyta
Classis                  : Magnoliopsida
Sub Classis           : Asteriidae
Ordo                     : Gentiales
Familia                 : Apocynaceae
Genus                   : Allamanda
Species                 : Allamanda cathartica L.
Tanaman Alamanda memiliki daun yang ujungnya meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata dan pada permukaan daunya licin. Tanaman alamanda termasuk dalam golongan perdu berkayu dengan tinggi yang dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun). Batangnya yang sudah tua akan berwarna cokelat karena pembentukan kayu, sementara tunas mudanya berwarna hijau. Daunnya memiliki bentuk yang melancip di ujung dengan permukaan yang kasar dengan panjang 6 hingga 16 cm. Selain itu daun alamanda pada umumnya berkumpul sebanyak tiga atau empat helai. Bunga alamanda berwarna kuning dan berbentuk seperti terompet dengan ukuran diameter 5-7.5 cm.  Tanaman ini memiliki bunga yang harum.
Allamanda cathartica L. duduk daun pada batang/cabangnya berkarang (folia verticillata), yakni setiap buku batang terdapat lebih dari dua daun.
Karena tata letak daunnya berkarang rumus daun Allamanda cathartica L. tidak dapat ditentukan. Pada tumbuhan yang tata letak daunnya berkarang tidak dapat ditentukan rumus daunnya, tetapi pada duduk batang yang seperti ini dapat memperlihatkan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak lurus satu sama lain.


3.      Tumbuhan Pandan (Pandanus sp.)
Klasifikasi :
Kingdom              : Plantae
Divisio                  : Magnoliophyta
Classis                  : Magnoliopsida
Sub Classis           : Arecidae
Ordo                     : Pandanales
Familia                 : Pandanaceae
Genus                   : Pandanus
Species                 : Pandanus sp.
Morfologi daun pandan yaitu daun dengan ujung segitiga lancip, tepi daun dan lapisan bawah dari pada ibu tulang daun berduri tempel (emergensia), berlilin dan hijau tua, daun bentuk pita berpelepah. Pandan merupakan segolongan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Sebagian besar anggotanya merupakan tumbuh di pantai-pantai daerah tropika. Anggota tumbuhan ini dicirikan dengan daun yang memanjang (seperti daun palem atau rumput), seringkali tepinya bergerigi. Akarnya besar dan memiliki akar tunjang yang menopang tumbuhan ini.
Tata letak daun pada tanaman pandan mengikuti garis-garis ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral yang melingkari batang atau dapat dikatakan karena terjadi pertumbuhan batang yang tidak lurus melainkan memutar, akibatnya ortostiknya ikut memutar yang disebut spirostik. Batang tanaman pandan memperlihatkan tiga spirostik atau disebut trispirotik. Oleh karena itu, tanaman pandan tidak dapat ditentukan rumus daunnya.

4.      Tumbuhan Bayam (Amaranthus spinosus L.)
Klasifikasi            :
Kingdom              : Plantae
Divisio                  : Magnoliophyta
Classis                  : Magnoliopsida
Subclassis             : Caryophyllidae
Ordo                     : Caryophyllales
Familia                 : Amaranthaceae
Genus                   : Amaranthus
Spesies                 : Amaranthus spinosus L.
Tanaman ini merupakan herba yang berumur satu tahun atau anual, susunan  daun tunggal dan tata letak daun tersebar dengan rumus daunnya 2/5 dan sudut divergensinya 144o. Batang basah dan berair berbentuk bulat dan mempunyai permukaan batang yang licin, tangkai daun silinder, sisi agak pipih, daun menebal pada pangkalnya. Arah tumbuh batang tegak lurus dan tiper percabangannya adalah monopodial yaitu batang pokok tampak jelas karena lebih besar dan lebih panjang. Sifat batangnya sirus pendek yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas pendek selain daun. Helaian daun bulat telur dengan susunan tulang daun menyirip, pangkal daun tumpul dengan  ujung daun yang agak membulat sedangkan tepi daunnya rata.
Daun pada tanaman bayam letaknya berselang-seling dan pada setiap buku-buku batang tanaman ini hanya terdapat satu daun. Oleh karena itu rumus daun tanaman ini dapat dicari. Dan berdasarkan pengamatan serta perhitungan diketahui bahwa tanaman daun baya, memiliki rumus daun (divergensi) 2/5. Yaitu untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan, garis spiral (spiral genetik) mengelilingi batang sebanyak 2 kali dan jumlah daun yang dilewati garis sptral tersebut sebanyak 5 daun. 
Jika diproyeksikan pada bidang datar, maka antara dua daun berturut-turut dapat dicari jarak sudutnya, dan sudut antara dua daun tanaman bayam (sudut divergensi) yaitu: 2/5 x 360° = 144°

5.      Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)
Klasifikasi            :
Kingdom              : Plantae
Divisio                  : Magnoliophyta
Classis                  : Magnoliopsida
Sub classis            : Dilleniidae
Ordo                     : Violales
Familia                 : Caricaceae
Genus                   : Carica
Species                 : Carica papaya L.
Tanaman pepaya merupakan semak berbentuk pohon dengan tipe batang herba. Lurus, bulat silindris dengan permukaan batang memperlihatkan adanya berkas-berkas daun dan pada sebelah dalam terdapat spons dan memiliki rongga. Arah tumbuh batang adalah memanjat dengan tipe percabangan monodial dan merupakan tumbuhan bineal, daun berjejal pada ujung batang dan ujung cabang yang merupakan roset batang. Daun berjejal-jejal pada ujung batang, berbentuk bulat, pertulangan daun menjari, tepi daun bertipe bercangap menjari berbagi serta warna daunnya hijau tua. Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas. Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah. Bentuknya dapat bercangap ataupun tidak. Pepaya kultivar biasanya bercangap dalam.
Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) tata letak daunnya tersebar dengan rumus daun 3/8, maksud angka 3 (tiga) tersebut adalah untuk mempertemukan daun yang satu dengan yang lain yang terletak dalam satu garis yang sama harus mengelilingi batang sebanyak 3 putaran, dan maksud dari angka 8 (delapan) tersebut adalah pada saat melakukan tiga kali putaran jumlah daun yang dilaluinya adalah berjumlah delapan dan perhitungannya dimulai dari angka nol. Dengan menggunakan rumus daunnya, maka dapat dihitung sudut disvergensi 3/8 x 3600 = 1350.

VI.             KESIMPULAN

1.        Tata letak daun pada tumbuhan tingkat tinggi terbagi menjadi tiga, yaitu: berhadapan-berselang, tersebar, dan berkarang.
2.        Rumus daun daun dapat dilihat dari daun yang sejajar dengan berpatokan pada tercapainya garis tegak lurus dengan daun yang mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang dilewati selama yang merupakan b. Sehingga rumus daun adalah a/b.
3.        Bagian duduknya daun dapat diproyeksikan sebagai silinder 3 dimensi dana padanya digambar ortostik-ortostiknya demikian pula pada buku-buku batangnya. Ini berpatokan pada rumus daun yang telah baku pada umumnya.
4.        Diagram daun merupakan diagram tata letak daun, yang dipandang sebagai kerucut memanjang, dengan buku-buku batang sebagai lingkaran yang sempurna. Ini berpatokan pada sudut divergensinya maupun rumus daunnya.
5.        Tumbuhan bayam (Amaranthus spinosus L.) rumus daunnya a/b = 2/5, sudut disvergensinya 2/5 x 360° = 144°
6.        Tumbuhan pepaya (Carica papaya L.), rumus daunnya a/b = 3/8, sudut disvergensinya 3/8 x 360° = 135°
7.        Tumbuhan alamanda (Allamanda cathartica L.) letak daunnya berkarang atau tersusun dalam satu lingkaran sehingga sulit ditentukan rumus daunnya.
8.        Tumbuhan pandan (Pandanus sp.) letak daunnya tersusun dalam spiral yang memperlihatkan 3 spirostik sehingga tidak dapat ditentukan rumus daunnya.





 
VII.          DAFTAR PUSTAKA
Adrak, Adria R. dan Sri Amintarti. 2010. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM: Banjarmasin.
http://www.google.co.id, diakses tanggal 26 Maret 2011.
http://id.wikipedia.org, diakses tanggal 26 Maret 2011.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar